Logo WhatsApp
oleh: admin pada: 27/07/2023 12:57 Pola Pengasuhan yang Membuat Anak Keras Kepala

Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan perilaku anak. Pengasuhan yang tepat akan membantu anak tumbuh dan berkembang secara positif, namun, pola pengasuhan yang tidak tepat dapat berpotensi membuat anak menjadi keras kepala dan sulit diatur.

Membentak dan Berteriak kepada Anak

Membentak dan berteriak kepada anak adalah salah satu pola pengasuhan yang tidak efektif dan dapat membuat anak menjadi keras kepala. Tindakan tersebut dapat membuat anak merasa takut dan cemas, sehingga mereka mungkin akan merespons dengan memperlihatkan perilaku yang lebih keras kepala sebagai bentuk pertahanan diri.

Ketika orang tua membentak atau berteriak, anak mungkin akan merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan dukungan emosional yang cukup. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi sulit untuk berkomunikasi dengan orang tua, dan mereka mungkin akan mengabaikan peraturan dan instruksi karena mereka merasa tidak didengar.

Sebagai alternatif, orang tua sebaiknya menggunakan komunikasi yang efektif dan penuh pengertian dengan anak. Dengarkan dengan sabar ketika anak berbicara, dan berbicaralah dengan nada yang tenang dan lembut ketika memberikan arahan atau peraturan. Dengan cara ini, anak akan merasa lebih dihargai dan lebih terbuka untuk berkomunikasi dengan orang tua.

Memanjakan Si Kecil

Memanjakan anak dengan memberikan semua permintaannya dapat membuat mereka menjadi terlalu terbiasa dan sulit menerima kekecewaan. Anak yang terlalu dimanjakan mungkin akan menganggap dirinya sebagai pusat dunia dan cenderung bersikap egois.

Ketika anak tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka mungkin akan menunjukkan perilaku keras kepala dan menuntut agar keinginan mereka segera dipenuhi. Pola pengasuhan yang memanjakan anak juga dapat menghambat perkembangan kemandirian dan tanggung jawab pada anak.

Sebagai orang tua, penting untuk mengajarkan anak tentang pentingnya pengendalian diri, menerima kenyataan, dan belajar menghargai apa yang sudah ada. Berikan pujian dan penghargaan ketika anak berperilaku baik atau menunjukkan sikap yang positif, namun juga tetap teguh dalam menetapkan batasan dan memberikan konsekuensi yang sesuai ketika anak melakukan kesalahan.

Kurangnya Quality Time Bersama Si Kecil

Quality time adalah waktu yang berkualitas yang dihabiskan bersama anak, di mana orang tua memberikan perhatian penuh dan berinteraksi dengan anak tanpa gangguan dari perangkat elektronik atau hal lainnya. Kurangnya quality time bersama si kecil dapat menyebabkan anak merasa tidak dihargai dan kurang terhubung dengan orang tua, sehingga mereka mungkin menunjukkan perilaku keras kepala untuk mencari perhatian.

Ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas lainnya dan kurang memberikan perhatian penuh pada anak, anak dapat merasa kesepian dan terabaikan. Pola pengasuhan yang kurang memberikan quality time juga dapat menyebabkan anak mencari cara-cara negatif untuk menarik perhatian, seperti dengan melakukan perilaku yang nakal atau mengganggu.

Sebagai solusi, cari waktu untuk menghabiskan quality time bersama anak secara teratur. Luangkan waktu untuk bermain, membaca buku, atau melakukan kegiatan bersama yang disukai oleh anak. Dengan memberikan perhatian penuh dan menunjukkan dukungan emosional, anak akan merasa lebih dihargai dan lebih terhubung dengan orang tua, sehingga mereka cenderung akan menunjukkan perilaku yang lebih positif.

Menerapkan Peraturan tanpa Memperhatikan Kebutuhan Si Kecil

Menerapkan peraturan tanpa memperhatikan kebutuhan dan kemampuan si kecil dapat membuat anak merasa tidak dipahami dan tidak dihargai. Anak yang merasa tidak dihargai cenderung akan menolak atau melawan peraturan yang diberlakukan oleh orang tua.

Sebagai contoh, menerapkan peraturan tidur yang ketat tanpa memperhatikan kebutuhan tidur anak yang berbeda-beda dapat membuat anak menjadi lelah dan rewel, sehingga mereka mungkin menunjukkan perilaku keras kepala untuk menolak tidur.

Sebagai orang tua, penting untuk memahami kebutuhan dan kemampuan si kecil serta menyesuaikan peraturan sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. Jika perlu, libatkan anak dalam proses membuat peraturan, sehingga mereka merasa memiliki keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan lebih termotivasi untuk mengikuti peraturan tersebut.

Selain itu, penting juga untuk memberikan penjelasan yang jelas tentang alasan di balik peraturan, sehingga anak dapat memahami pentingnya aturan tersebut. Dengan cara ini, anak cenderung akan lebih kooperatif dalam mengikuti peraturan dan perilaku mereka akan lebih terarah.

Mendidik anak itu sejatinya adalah mendidik diri sendiri. Semoga kita semua dimampukan menjalankan amanah sebagai orangtua sebaik-baiknya.

Salam hangat untuk seluruh Ayah Bunda di manapun berada.