Logo WhatsApp
oleh: admin pada: 28/07/2023 07:15 Mengetahui Perbedaan Antara Tantrum dan Sensory Meltdown pada Anak

Sebagai orang tua atau pengasuh, menghadapi situasi di mana anak mengalami ledakan emosi atau perilaku yang mencolok adalah hal yang biasa terjadi. Namun, mungkin sulit untuk memahami apakah anak sedang mengalami tantrum biasa atau sensory meltdown. Meskipun keduanya bisa terlihat mirip, ada perbedaan penting antara keduanya.

Apa itu Tantrum?

Tantrum adalah reaksi emosional berlebihan yang dilakukan anak sebagai bentuk kekecewaan, frustrasi, atau ketidakpuasan terhadap situasi tertentu. Tantrum umumnya terjadi karena anak ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Beberapa ciri khas dari tantrum adalah:

  1. Ekspresi Emosi yang Ekstrim: Anak akan menunjukkan emosi yang kuat seperti marah, kesal, atau frustasi. Mereka mungkin menangis, berteriak, meronta, atau mengguling-guling.
  2. Pengaruh Lingkungan: Tantrum seringkali dipicu oleh situasi atau kejadian tertentu, seperti ketika anak dilarang bermain dengan mainan favoritnya atau ketika mereka tidak mendapatkan makanan yang mereka inginkan.
  3. Respons terhadap Batasan: Tantrum seringkali muncul sebagai respons terhadap pembatasan atau aturan yang diberlakukan oleh orang tua atau pengasuh.
  4. Kontrol Terhadap Situasi: Anak mungkin berusaha mengontrol situasi dengan cara meluapkan emosi mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
  5. Kurangnya Penyesuaian: Tantrum biasanya terjadi karena anak belum belajar cara menyesuaikan diri dengan keinginan atau keterbatasan dalam lingkungan mereka.
  6. Dapat Diredakan dengan Hasil yang Diinginkan: Tantrum umumnya berhenti ketika anak mendapatkan apa yang mereka inginkan atau ketika mereka menyadari bahwa perilaku ini tidak berhasil dan tidak diizinkan.

Apa itu Sensory Meltdown?

Sensory meltdown adalah respons yang berbeda dan lebih intens dari sistem sensorik anak terhadap rangsangan lingkungan yang berlebihan. Anak dengan sensory meltdown biasanya memiliki gangguan pengolahan sensorik, di mana sistem sensorik mereka tidak mampu mengatur dan merespons rangsangan dengan efisien. Beberapa ciri khas dari sensory meltdown adalah:

  1. Reaksi Fisik yang Kuat: Anak dapat menunjukkan reaksi fisik yang kuat, seperti gemetar, menangis tanpa henti, atau menggigil.
  2. Keterbatasan Dalam Lingkungan Berisik: Anak mungkin kesulitan menangani lingkungan yang berisik, seperti suara keras atau lingkungan dengan banyak orang.
  3. Tidak Ada Hubungan dengan Hasil: Sensory meltdown tidak berhubungan dengan upaya anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi lebih berkaitan dengan respons sistem sensorik mereka terhadap rangsangan lingkungan.
  4. Tidak Dapat Diredakan dengan Hasil yang Diinginkan: Berbeda dengan tantrum, sensory meltdown biasanya tidak dapat diredakan dengan memberikan apa yang diinginkan anak.
  5. Kondisi Pemicu yang Tidak Jelas: Sensory meltdown dapat terjadi tanpa pemicu yang jelas atau dapat dipicu oleh berbagai rangsangan yang mungkin tidak tampak mengganggu bagi orang lain.
  6. Kehilangan Kendali: Anak mungkin kehilangan kendali atas diri mereka sendiri selama sensory meltdown dan kesulitan untuk menghentikan atau mengontrol perilaku dan reaksi mereka.

Perbedaan Utama Antar Tantrum dan Sensory Meltdown

Meskipun tantrum dan sensory meltdown bisa terlihat mirip, ada beberapa perbedaan utama antara keduanya:

  • Penyebab: Tantrum dipicu oleh keinginan atau ketidakpuasan anak terhadap situasi atau kejadian tertentu, sementara sensory meltdown dipicu oleh respons sistem sensorik anak terhadap rangsangan lingkungan.
  • Kontrol: Dalam tantrum, anak mungkin berusaha mengontrol situasi dengan perilaku ekspresif mereka, sementara dalam sensory meltdown, anak kehilangan kendali atas diri mereka sendiri dan kesulitan mengontrol perilaku dan reaksi mereka.
  • Respons Terhadap Hasil: Tantrum biasanya berhenti ketika anak mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menyadari bahwa perilaku ini tidak berhasil. Di sisi lain, sensory meltdown tidak berhubungan dengan hasil atau imbalan, dan tidak mudah dihentikan oleh memberikan apa yang diinginkan anak.
  • Pemicu: Tantrum terjadi karena situasi atau kejadian yang mengecewakan atau memicu keinginan anak, sementara sensory meltdown dapat terjadi tanpa pemicu yang jelas atau dipicu oleh rangsangan lingkungan yang mungkin tidak tampak mengganggu bagi orang lain.
  • Kaitan dengan Lingkungan: Tantrum umumnya terkait dengan interaksi dengan orang lain atau situasi tertentu, sementara sensory meltdown lebih berkaitan dengan respons terhadap rangsangan lingkungan yang berlebihan.

Cara Menghadapi Tantrum dan Sensory Meltdown

Menghadapi tantrum dan sensory meltdown memerlukan pendekatan yang berbeda. Ketika menghadapi tantrum, penting untuk tetap tenang dan mempertahankan kontrol atas diri sendiri. Jika memungkinkan, cobalah untuk memahami apa yang mungkin menjadi keinginan atau ketidakpuasan anak, namun tetap teguh dalam memberlakukan batasan atau aturan yang telah ditetapkan. Berikan dukungan emosional kepada anak setelah tantrum mereda dan bicarakan dengan mereka tentang cara-cara yang lebih baik untuk mengungkapkan emosi mereka.

Sementara itu, saat menghadapi sensory meltdown, pertimbangkan untuk mengalihkan perhatian anak dari rangsangan lingkungan yang berlebihan dan membawa mereka ke lingkungan yang lebih tenang dan terkontrol. Berikan dukungan emosional dan pastikan anak merasa aman selama proses sensory meltdown. Setelah sensory meltdown mereda, cobalah untuk mengidentifikasi pemicu atau rangsangan yang mungkin telah menyebabkan reaksi yang intens, dan bicarakan tentang cara menghadapinya di masa depan.

Dalam kedua situasi, penting untuk mengingat bahwa anak adalah makhluk yang belajar dan berkembang, dan seringkali mereka belum memiliki keterampilan sosial atau koping yang sempurna. Oleh karena itu, sebagai orang tua atau pengasuh, kita harus memberikan dukungan, kesabaran, dan pengertian dalam membantu anak mengatasi emosi dan tantangan dalam lingkungan mereka.

Mengetahui perbedaan antara tantrum dan sensory meltdown penting bagi orang tua dan pengasuh untuk mengidentifikasi dan menghadapi perilaku anak dengan tepat. Kenali perbedaannya yaa Bunda. Keduanya menuntut kita sebagai orangtua untuk lebih sabar menghadapi perilaku anak-anak kita. Semoga Allah melapangkan dan melembutkan hati seluruh orangtua.