Sebagai orang tua, pola asuh yang kita terapkan akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan perilaku anak-anak kita. Pola asuh merupakan cara kita dalam mendidik, membimbing, dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak.
Setiap orang tua memiliki pola asuh yang berbeda-beda, dan pola asuh tersebut dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis, antara lain pola asuh demokratis, otoriter, abai/lalai, dan permisif.
Mengenal Lebih Jauh Masing-Masing Pola Asuh dan Menilai Apakah Pola Asuh Kita Sudah Tepat Atau Perlu Diperbaiki.
Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis, juga dikenal sebagai pola asuh otoritatif, merupakan pola asuh yang seimbang antara memberikan batasan dan aturan yang jelas, serta memberikan kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung mendengarkan pendapat anak, memberikan penjelasan dan alasan mengenai keputusan yang diambil, dan memberikan dukungan positif dalam perkembangan anak.
Penting untuk mencatat bahwa pola asuh demokratis bukan berarti mengizinkan anak melakukan apa pun yang mereka inginkan. Tetapi, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis memberikan batasan yang masuk akal dan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dari kesalahan mereka. Anak-anak yang tumbuh dalam pola asuh demokratis cenderung memiliki rasa percaya diri yang tinggi, memiliki keterampilan sosial yang baik, dan dapat mengambil keputusan dengan bijaksana.
Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter cenderung memberikan aturan yang ketat dan menuntut kepatuhan yang mutlak dari anak tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk berbicara atau mengemukakan pendapat mereka. Pola asuh ini mungkin ditandai dengan komunikasi satu arah dari orang tua ke anak, di mana anak harus tunduk pada peraturan dan norma yang ditetapkan.
Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mungkin memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak, dan ketidakpatuhan atau pelanggaran terhadap aturan akan dihukum dengan tegas tanpa memberikan alasan yang memadai. Meskipun pola asuh otoriter dapat memberikan disiplin yang tinggi, tetapi pola asuh ini juga dapat menyebabkan anak merasa tertekan, kehilangan kepercayaan diri, dan cenderung memiliki perilaku yang lebih pemberontak.
Pola Asuh Abai/Lalai
Pola asuh abai/lalai adalah pola asuh yang kurang memberikan perhatian dan bimbingan yang cukup kepada anak. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung tidak terlalu peduli atau acuh terhadap kebutuhan dan perkembangan anak. Mereka mungkin tidak memberikan dukungan atau pengawasan yang diperlukan, dan anak dibiarkan bebas tanpa batasan yang jelas.
Dalam pola asuh abai/lalai, anak cenderung dibiarkan menghadapi tantangan dan masalah dalam kehidupan sehari-hari tanpa bantuan atau bimbingan dari orang tua. Hal ini dapat menyebabkan anak merasa tidak dihargai atau diabaikan, dan mereka mungkin mengalami kesulitan dalam mengembangkan tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.
Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah pola asuh yang memberikan kebebasan yang tinggi bagi anak tanpa batasan yang jelas. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung tidak memberikan aturan atau konsekuensi yang tegas terhadap perilaku anak. Mereka juga mungkin terlalu memanjakan anak dan memberikan apa yang diinginkan anak tanpa pertimbangan yang matang.
Dalam pola asuh permisif, anak cenderung dibiarkan bebas tanpa pengawasan yang memadai. Mereka mungkin tidak menghargai aturan, sulit mengendalikan emosi, dan memiliki masalah dalam menghadapi batasan atau kritikan. Meskipun pola asuh permisif mungkin membuat anak merasa bebas, tetapi kurangnya batasan dan bimbingan dapat menyebabkan anak tidak memiliki pandangan yang jelas tentang apa yang benar dan salah.
Menilai Apakah Pola Asuh Kita Sudah Tepat
Sebagai orang tua, sangat penting untuk selalu mengevaluasi dan menilai apakah pola asuh yang kita terapkan sudah tepat atau perlu diperbaiki. Pola asuh yang tepat adalah pola asuh yang seimbang, memberikan dukungan dan batasan yang sesuai dengan perkembangan anak, serta memperhatikan kebutuhan dan keselamatan anak.
Beberapa pertanyaan yang dapat membantu menilai apakah pola asuh kita sudah tepat antara lain:
- Apakah kita mendengarkan pendapat dan pandangan anak?
- Apakah kita memberikan penjelasan dan alasan mengenai keputusan yang diambil?
- Apakah kita memberikan dukungan dan dorongan positif bagi perkembangan anak?
- Apakah kita memberikan aturan dan batasan yang jelas?
- Apakah kita memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dari kesalahan mereka?
- Apakah kita memberikan pengawasan yang cukup dan memberikan dukungan dalam menghadapi tantangan?
- Apakah kita memberikan disiplin yang tepat tanpa terlalu ketat atau terlalu longgar?
- Apakah kita memberikan perhatian yang cukup terhadap perkembangan dan kebutuhan anak?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menunjukkan bahwa pola asuh kita sudah seimbang dan memberikan dukungan yang baik bagi anak, maka kemungkinan besar pola asuh kita sudah tepat. Namun, jika ada area yang perlu diperbaiki, tidak ada salahnya untuk terbuka dan mau belajar untuk meningkatkan pola asuh yang lebih baik.
"Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku" HR Tirmidzi
Semoga menjadi renungan bagi kita semua, terutama para orangtua. Sudahkah kita bersikap paling baik terhadap anak-anak kita dan pasangan kita di rumah?